TENTANG KOTA SOLO

19:58 Posted In Edit This 0 Comments »


Tentang Solo Raya
Solo Raya sebenarnya mengacu pada suatu wilayah yang dahulu dikenal dengan istilah Karesidenan Surakarta ( Eks karesidenan Surakarta ). Karesidenan adalah sebuah wilayah yang dipimpin oleh seorang residen pada masa penjajahan dulu. Dahulu ada Karesidenan Surakarta yang wilayahnya meliputi kota Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten. Wilayah Karesidenan ini serupa dengan wilayah Kerajaan Surakarta Hadiningrat. Keseluruhan wilayah ini menempati area seluas 5.722,38 km2.

Istilah Solo raya memang diciptakan untuk menggantikan istilah Subosukawonosraten. Subosukowonosraten adalah singkatan dari wilayah-wilayah yang tergabung yaitu. surakarta,boyoali, sukoharjo, Karang Anyar, Wonogiri sragen. Klaten.

Solo Raya memiliki Slogan Solo Spirit of Java. Dengan Slogan itu Solo raya ingin menegakkaan kembali semangat adi luhung budaya jawa dalam pembangunan wilayah.

Letak Wilayah Solo Raya sagat strategis karena Solo terletak tidak jauh dari pusat–pusat perdagangan utama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Solo terletak hanya 102 km dari Semarang, 60 km dari Yogyakarta dan sekitar 210 km dari Surabaya. Ketiga kota bersar tersebut dapat dijangkau dengan mudah dari Solo karena jalan dan lintasan dalam kondisi baik.

Pembangunan di wilayah Solo Raya berusaha mengedepankan pengembangan klaster intensif, seperti klaster logam dan furnitur di Klaten, klaster susu di Boyolali dan klaster tekstil di Sukoharjo. Produk–produk dengan potensi tertinggi di wilayah ini berada dalam sektor tekstil dan furnitur. Banyak perusahaan di Solo Raya telah merintis usaha ekspor sejak lama didukung tenaga kerja yang berpendidikan tinggi dan terampil di wilayah ini.

Di Solo Raya terdapat beragam obyek wisata yang menarik. Keberadaan Keraton Surakarta sekaligus pusat pengembangan budaya jawa pada masa lalu menjadikan Solo raya Kota yang kaya akan objek iwsata budaya. Selain itu ada juga Situs Sangiran yang merupakan situs jaman prasejarah. Situs Sangiran yang secara resmi dicanangkan sebagai UN World Heritage, Warisan Budaya Dunia dari PBB. Sedangkan potensi wisata alam yang indah dan eksotik adalah tawangmangu.

Potensi–potensi utama yang menarik untuk dijadikan usaha di wilayah Solo Raya antara lain adalah: Agro processing, furnitur, tekstil, pariwisata.

Sejarah Kota Solo
Solo sebenarnya adalah nama sebuah desa yang terletak di tepi sungai Bengawan Solo. Desa itu dinamai sesuai dengan nama pemimpin desa itu yang bernama Kyai Solo. Desa Solo dipilih oleh Paku Buwono II untuk membangun sebuah pusat pemerintahan baru bagi Kerajaan Mataram islam.

Pada tahun 1742 orang-orang keturunan cina yang merasa tidak suka pada kebijakan Paku Buwono II, Raja mataram Islam yang bertahta di Kartasura. Paku Buwono II dinilai terlalu dekat dengan Penjajah Belanda melakukan pemberontakan. Pemberontakan yang dipinpin oleh Raden Mas Garendi ini dikenal juga dengan Pemberontakan Sunan Kuning. Para pemberontak itu berhasil mengusir Paku Buwono II dari istananya yang pada saat itu berada di Kartasura. Paku Buowno II terpaksa mengungsi ke Ponorogo ( jawa Timur ).

Berkat bantuan Belanda dan Pangeran Mangkubumi akhirnya kaum pemberontak berhasil dikalahkan. Namun Istana telah dirusak dan dijarah oleh para pemberontak. Karena dinilai sudah tidak layak lagi sebagai pusat pemerintahan maka diputuskan untuk mencari lokasi baru sebagai pengganti. Sebenarnya ada beberapa pilihan tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya dipilihlah desa Desa Solo.

Pada tanggal 17 tahun 1745 Paku Buwono II boyongan ke Desa Solo untuk menempati Istananya yang baru. Dan mulai saat itu Desa Solo berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan kerajaan Mataram Islam. Untuk mengenang peristiwa boyongan keraton yang juga menjai tongak penting bagi tongak sejarah kota Solo maka tanggal 17 februari di jadi sebagai hari jadi kota surakarta.

Namun sebagai imbal jasa dari bantuan tersebut pada tahun 1755 di buatlah Perjanjian Giyanti yang membuat kerajaan Mataram islam pecah menjadi Kerajaaan Surakarta dengan raja Paku Buwono II dan kerajaan Yogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja bergelar Hamengku Buwono.

Serangan Umum di Solo

Tahukah anda apa yang terjadi di Kota Solo pada tanggal 7 Agustus tahun 1949?

Pada hari tersebut Tentara Nasional Indonesia (TNI) melancarkan serangan umum.

Selain melakukan serangan terhadap kota Yogyakarta, TNI juga melancarkan serangan umum terhadap kota Solo. Serangan itu dilancarkan menjelang diberlakukan perintah penghentian tembak-menembak antara RI dan Belanda. Tanggal 3 Agustus Agustus 1945 tercapai persetujuan antara pemerintah RI dan pihak Belanda mengenai penghentian permusuhan, pelaksanaan cease fire harus sudah berlaku tanggal 11 Agustus 1949.
Serangan Umum terhadap kota Solo dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang pertama tanggal 7 sampai 9 Agustus 1949. Puncak dari serangan tersebut adalah tanggal 10 Agustus 1949, sesuai dengan perintah Letnan Kolonel Slamet Riyadi selaku Komandan Brigade 5 Divisi II, selaku Komandan Pertempuran Panembahan Senopati. Pasukan TNI dalam penyerangan ke kota Solo menembak semua obyek musuh. Tanggal 10 Agustus 1949 adalah penyerangan besar-besaran dilakukan TNI, serangan ini diawali jam 06.00 dan selanjutnya pukul 24.00 semua gerakan militer dihentikan sesuai Instruksi Presiden/Panglima Tertinggi APRI. Serangan ini bukan bertujuan merebut kota Solo, melainkan membuktikan kepada musuh bahwa TNI masih kuat.
Untuk menghargai dan mengenang kepahlawanan Kolonel Slamet Riyadi jalan utama di kota Solo diberi nama pahlawan nasional tersebut.

Pasar Antik Triwindu
Pasar antik Triwindu menjadi salah satu keharusan untuk dikunjungi para tamu yang datang ke kota Solo, selain pasar Klewer yang terkenal dengan batiknya. Pasar Triwindu merupakan “thrift market” yang unik, dengan menjual berbagai barang-barang kuno dan memoribilia, membawa kita kepada kehidupan pada masa lalu.

Lorong-lorong sempit, namun bersih, kios-kios yang dipenuhi berbagai macam barang kuno maupun barang-barang buatan baru memenuhi etalase dan space di setiap kios yang berada di kawasan itu. Para pedagang duduk di “dingklik” (kursi kecil yang pendek) menanti pembeli di depan kiosnya, sambil bercerita dan bersenda gurau dengan pemilik kios yang lain. Kadang kala terdengar tawa canda, kadang pula saling menanyakan tentang penjualan pada hari itu, sembari sekali-kali menawarkan kepada tamu yang melewati kios mereka. Berburu barang-barang kuno, dari koin lama sampai pada gelas kristal di sana merupakan hal yang sungguh menyenangkan, walaupun komplek pasar tidaklah besar.

Pasar ini adalah hadiah ulang tahun yang kedua puluh empat dari GRAy. Nurul Khamaril, puteri Mangkunegoro VII. Selain nama Triwindu (Tri= tiga ; Windu= delapan), pasar ini juga di kenal dengan nama pasar Windu Jenar.Namun pasar triwindu yang terkesan unik itu, karena perpaduan antara barang antik, vintage dengan onderdil motor/mobil, juga alat-alat pertukangan dan pertanian. Mereka mempunyai blok tersendiri untuk ketiga jenis barang tersebut di atas. Pasar Triwindu termasuk salah satu aset budaya di kota Solo.


Namun dalam waktu yang dekat, pemerintah kota Solo merasa urgent dan perlu untuk merombak pasar tersebut secara total dengan tujuan untuk kenyamanan pengunjung. Ada kemungkinan lorong-lorong hunting akan dihilangkan, kios-kios dari kayu juga lenyap, lantai semen akan digantikan oleh keramik modern, daun jendela lebar dari kayu yang mempunyai dwi fungsi, baik sebagai penutup jendela dan payon akan digantikan oleh plafon. Semua akan berubah. Ambience pasar antik tradisional akan segera sirna. Suasana adem dan rindang karena payon-payon yang menjadi tudung dari sengatan matahari siang, cahaya-cahaya terobosan di dalam kios-kios hanya akan menjadi kenangan para pengunjung setia pasar tersebut. Modernisasi akan merambah dan menggantikan suasana pasar jaman dahulu.

Pasar Triwindu harus mengalah dan menyerah pada era modernisasi pembangunan di kota Solo pada tahun 2008. Yang tertinggal dari masa lalu hanyalah namanya saja. Berbagai pro dan kontra, juga keresahan para pedagang disana tercermin pada hari-hari menjelang hari H dimana mereka diinstruksikan untuk pindah sementara ke bedeng-bedeng darurat yang disediakan oleh pemerintah kota Surakarta. Suasana pasar terasa tegang, tidak seperti hari-hari sebelum tercetusnya ide perombakan total. Wajah-wajah suram dan bingung menyelimuti mereka. Tidak lagi terdengar suara-suara ramah yang menawarkan barang-barang mereka, hanya ada resah dan khawatir yang tercermin di setiap pedagang di sana. Mereka hanya mampu menempel poster-poster tulisan tangan di dinding-dinding sebagai tanda protes, pembicaraan dan keluh kesah diantara mereka, spanduk yang direntangkan dipinggir jalan salah satu gapura. Segala usaha yang dilakukan tidak meluluhkan hati para pembesar di Solo untuk merevisi rencana ini, terkesan mereka berteriak, namun tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan dalam menyuarakan keresahan ini.

Warisan masa lalu oleh orang tua mereka disana segera akan terhapus oleh masa depan yang belum diketahui. Satu lagi heritage yang hilang di terpa jaman. Namun para pakar sejarah dan budayawan Surakarta belum juga bersuara dalam mengemukakan pendapat mereka, seperti pada saat rencana pembangunan pasar Gede di Solo, ataupun wacana merombak pasar Klewer selayaknya mall. Pasar Triwindu seakan tidak mampu meneruskan keresahan penghuninya kepada para pakar dan pemerhati di Solo. Akhirnya, di waktu yang singkat harus menyerah terhadap pemusnahan warisan aset budaya, cermin pasar tradisional dengan dalih penyempurnaan dan peningkatan kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung. Saatnya mengucapkan salam selamat tinggal kepada lorong-lorong, jendela dwi fungsi, payon-payon, pintu-pintu kayu, lantai semen dan suasana adem dan “rindang”, cahaya terobosan yang menyinari kios-kios.

Langen Bogan

Banyak yang bilang, orang Solo itu terkenal keplek ilat alias suka makan enak dan kritis terhadap rasa makanan. Maka tak heran, banyak jajanan enak yang ada di Solo, jangan terlalu pusing dengan harganya, karena kebanyakan jajanan di Solo murah dan terjangkau. Warung-warung kaki lima yang terlihat biasa sekalipun bisa mempunyai nama yang cukup melegenda dan selalu dikangeni oleh pelanggannya, bahkan hingga beberapa generasi. Misalnya seperti, Gudeg Ceker Margoyudan, Tengkleng Pasar Klewer, Sate Kéré Yu Rebi, Bakmi Toprak Yu Nani, Warung Bakmi Pak Dul, Bestik Harjo, dan masih banyak lagi.

Menariknya, saat ini tambah satu lagi pusat jajanan di Solo, namanya Langen Bogan. Letaknya persis di sebelah timur bundaran Gladag. Tempat itu sebenarnya adalah jalan umum, tapi pada malam hari jalan tersebut sepi pelintas. Dan sekarang jalan itu justru bisa disulap menjadi salah satu tempat keramaian baru oleh Pemkot Solo. Konsepnya memang meniru Kya Kya di Surabaya dan Warung Semawis di Semarang, yang menutup jalan umum di malam hari, dan mengubahnya menjadi tempat wisata kuliner.

Warung-warung legendaris yang disebutkan di atas tadi juga membukan cabangnya di Langen Bogan. Tapi tak hanya itu, jenis makanan lain yang bukan khas Solo pun tersedia di sini, seperti kebab, steak, nasi kabuli, dan seafood. Menu minuman yang ditawarkan juga beragam, misalnya dawet Pasar Gede, gempol pleret, wedang dongo, wedang jahe, kopi, dan lainnya. Jadi, tempat ini bisa disebut sebagai one stop ‘culinary’ service alias tempat pelayanan keplek ilat di satu tempat, hehe. Langen Bogan beroperasi mulai dari pukul 5 sore hingga sekitar pukul 12 malam.

Ditengah jalan ditata kursi-kursi beratapkan payung, jumlahnya masih belum mencukupi, sehingga saat sedang ramai, seperti pada akhir minggu, banyak pengunjung yang tidak kebagian kursi. Tapi tak perlu resah, karena beberapa pedagang juga menyediakan tikar bagi pelanggannya untuk lesehan.

Disperindag Kota Solo sudah menyediakan gerobak stainless steel bagi semua pedagang. Setiap pedagang juga sudah mendapatkan aliran air bersih, jadi pengunjung tidak perlu takut dengan kebersihannya.

Menurut Walikota Solo, yang akrab disapa Jokowi, selain Langen Bogan, tahun ini juga akan dibangun kawasan wisata kuliner baru di sepanjang Jalan Diponegoro di depan Pura Mangkunegaran. Bedanya, wisata kuliner di Jalan Diponegoro lebih diperuntukkan bagi pedagang-pedagang pemula yang baru akan memulai usahanya.

Jadi tunggu apa lagi, kami tunggu Anda di Solo untuk keplek ilat bersama, menikmati sajian-sajian yang ada. Monggo pinarak…

Sumber:
http://wisatasolojogja.com/?cat=63

0 komentar: